Menanti Waktu Berpihak

Aku,

Adalah insan yang menanti waktu yang tepat,

Waktu di mana kita bisa saling memahami,

Saling mengerti,

Isi hati kita,

Satu sama lain..

Aku selalu menanti datangnya malam,

Seperti hari-hari sebelumnya,

Ku pikir akan selalu sama,

Ketika engkau datang berdampingan dengan malam..

Intuisiku tak lagi kuat,

Malam tak membawamu untukku,

Siang tak memulangkanmu padaku,

Sehingga,

Petangku,

Tak lagi sehangat dahulu kala,

Ketika engkau selalu memelukku,

Dan berbisik kata rindu,

Dengan penuh kasih,

Hingga fajar tiba..

Aku selalu sadar,

Bahwa tak selamanya,

Waktu berpihak kepadaku,

Atau bahkan kepadamu..

Ia selalu berhasil,

Menciptakan seribu rasa,

Dalam satu waktu..

Aku teringat,

Ketika kau sungguh mencitaiku,

Aku belum mencintaimu,

Hingga ku lewatkan dirimu,

Di sepanjang malamku,

Dan tak ada arti hadirmu,

Di dalam hidupku..

Namun,

Kau kayuh waktu begitu keras,

Meski jalannya lambat,

Namun semua telah terjadi,

Bahwa kita saling mencintai,

Dalam bahasa yang tak lagi bisa diungkapkan,

Karena maknanya terlalu dalam,

Dan bahagia tak lagi harus ditanya.

Akan tetapi,

Yang harus ku ingat kembali,

Waktu bisa mengayuh dirinya sendiri,

Bahkan ia bisa berjalan cepat,

Terutama ketika kita menikmatinya..

Tak terasa,

Saatnya tiba,

Waktu di mana aku sangat mencintaimu,

Dan menanti,

Kau mencintaiku lagi..

Aku selalu berharap,

Di setiap malamku,

Hadirnya dirimu,

Segala kasihmu,

Segala kebaikanmu..

Aku sungguh menanti,

Waktu berpihak kembali kepada kita,

Waktu di mana kita bisa saling mencintai,

Seperti saat itu,

Bukan untuk satu putaran waktu,

Tapi untuk semua malam,

Yang tak berujung..

Lawan Arah

Aku sedang mengulas balik,

Tentang cerita yang beberapa hari lalu masih indah,

Bahagia,

Dan penuh tawa..

Yang kini penuh debu,

Agak usang,

Dan memudar…

Tentang kalimat rindu,

Yang tak lagi terucap,

Dan hanya menjadi tipu…

Aku sedang tidak mengerti,

Perihal waktu,

Yang suka bermain,

Dengan kisahku…

Betapa liciknya,

Dan pandainya,

Menampik dan membalikkan sebuah rasa,

Sebuah cerita,

Hingga cinta…

Ini bukan kisah remaja,

Atau,

Yang katanya cinta monyet,

Atau bahkan,

Cinta pandangan pertama..

Ini adalah kisah,

Seorang yang pernah terluka,

Menutup hati dan mata,

Yang akhirnya memilih,

Untuk jatuh hati…

Yang sudah berharap,

Dengan sepenuh hati,

Yang menerbangkan harapan,

Ke angkasa tinggi,

Berharap bahagia,

Nanti…

Yaaaa…

Nanti…

Bukan sekarang…

Karena aku terlalu menerbangkan harapan terlalu tinggi,

Ke langit,

Tanpa henti,

Hingga tak kunjung capai yang dinanti…

Aku sadar,

Selalu sadar,

Tak baik berharap banyak,

Terutama kepada manusia…

Karena yang indah bisa terhempas,

Yang ada bisa terganti,

Yang terukir bisa terhapus,

Karena waktu pandai membalikkan arah,

Dalam segala perjalanan setiap insan,

Perjalanan hidup,

Termasuk cinta…

Semakin Menyadari

Setiap detik-detik yang berlalu,

Setiap waktu yang berjalan,

Setiap hari yang berganti,

Setiap kenangan yang terukir,

Setiap cerita yang hadir,

Setiap kata yang terucap,

Setiap memori yang terus bertumpuk satu sama lain…

Aku semakin menyadari,

Bahwa perkenalan ini terlalu kecil,

Ruang lingkupnya tak cukup besar,

Hanya satu titik tinta diantara luasnya lautan,

Yang masih harus menyebar dan menyelam hingga dasarnya..

Hanya satu tetes embun,

Di antara ribuan daun yang telah gugur dan mengering..

Tak cukup jika dibilang sedekat nadi,

Tak salah jika dibilang sejauh matahari,

Hanya saja perjalanan yang masih panjang,

Sepertinya semakin melambat,

Tak lagi berlari,

Kaki sulit melangkah,

Hanya diam membisu,

Menanggapi kenyataan yang tak ada habisnya,

Bahwa harus menyadari,

Tak semuanya ku ketahui..

Aku semakin menyadari, bahwa aku belum mengenal engkau,

Aku tak cukup mengerti engkau..

Tapi,

Aku tak ingin menangis lagi..

Oleh karenanya,

Biarkan aku semakin menyadari,

Apa yang ada padamu,

Apa yang kau rasakan,

Apa yang bisa ku lakukan,

Harus kemana ku harus melangkah,

Agar tak lagi ku terjatuh,

Dalam lubang yang berbeda,

Namun luka yang sama…

Biarkan waktu terus berjalan,

Dan kenyataan semakin menunjukan

Yang sebenarnya…

Untuk Orang-Orang Terpilih

Untuk kamu,

yang sedang membaca ini,

yang tangannya masih menggenggam,

yang jari jemarinya masih bisa meraih,

yang kakinya masih melangkah,

yang mulutnya masih mengucap,

dengan telinga yang bisa mendengar suara bisikan lembut,

entah saat ini sedang tersenyum,

atau terluka..

Kamu adalah orang terpilih.

Kamu adalah satu bentuk karya yang hebat…

 

Untuk kamu,

yang saat ini masih bisa berharap,

masih bermimpi,

masih menunggu,

dengan ribuan angan…

Kamu adalah orang terpilih,

untuk suatu bentuk karya dengan sabar yang lapang…

 

Untuk kamu,

tak perlu kau isi setiap detikmu

dengan sebuah keluhan..

Karena tak akan ada habisnya,

dan membuatmu semakin tidak mengerti,

bahwa kamu adalah orang terpilih.

Karena di balik bebanmu,

di balik kesalmu,

di balik air matamu,

di balik marah dan sedihmu,

akan ada rasa syukur,

rasa bahagia,

rasa suka,

dan tawa,

jika detik ini juga kamu menyadari,

bahwa kamulah salah satu orang terpilih..

Menata Logika

Ketika sedang jatuh cinta,

harus siap terluka katanya.

Namun,

romansa yang terasa,

menunjukkan sesuatu yang berbeda,

mencinta,

dan dicinta…

Lihat siapa yang menjadi budak cinta..

Yang dulu berjanji pada sang pujangga,

Hati tak akan terbuka..

Bukan kapan tentang dia tiba,

namun saat hati ini menerima..

Hanya saja melihat semua yang pernah ada,

logika juga harus bertahta,

bahwa cinta

tak sampai buta..

Meskipun sulit berdusta,

bahwa cinta yang ada,

sudah menutup luka,

hingga membuatku percaya…

Bahwa bahagia itu ada.

Bagi yang menjaga.

Sakit

Ada sakit yang tak bisa diartikan,

Ada sakit yang tak bisa dikatakan,

Ada sakit yang tak dimengerti sebabnya,

Ada yang hanya diam saja bisa rasa sakit…

Sakit,

Tapi bukan karena terjatuh lalu terluka,

Bukan karena tersandung dan tersungkur,

Bukan karena sebuah lebam,

Dan bukan karena sebuah tusukan..

Sakit,

Namun tidak perlu pergi ke dokter,

Rumah sakit,

Ataupun harus minum obat,

Tiga kali sehari hingga habis..

Ada sakit yang hanya melihat,

Ada sakit yang hanya mendengar,

Ada sakit yang hanya sebuah kata,

Ada sakit yang hanya karena perlakuan..

Sakit yang tak terobati,

Sakit yang tersembunyi,

Sakit yang tak terlihat,

Dan tak akan pernah dimengerti,

Oleh siapapun,

Kecuali yang merasakannya…

Pandangan Pertama Untuk Manis yang Dingin (2)

Aku mencoba mencari tahu tentangmu,

Bahkan hingga satu minggu setelah pertemuan itu.

Sampai akhirnya aku menemukanmu lewat ponselku.

Ku coba berbincang sedikit.

Ternyata engkau sangat terbuka dan menawan hati.

Dan akupun tersadar, bukan hanya aku yang mengagumimu,

Bahkan bukan hanya sekedar mengagumimu,

Melainkan juga mencintai dan mengandalkanmu,

Ada dia yang telah bersamamu…

Dia yang mengerti kamu,

Yang mungkin hampir setiap hari bertemu denganmu,

Yang mungkin akan ke jenjang yang lebih serius.

Aku berhenti,

Berhenti mengagumimu,

Karena takut,

Rasa kagumku menjadi sangat luar biasa.

Aku memilih jalan yang lain..

Untuk lebih memilih berteman denganmu,

Saling sapa dan saling mengenal.

Ya sebagai teman saja.

Karena aku memilih jalan maju ke depan,

Hingga akhirnya aku dipertemukan…

Dengan sebuah pelajaran yang lebih berharga.

Daripada sekedar rasa saling suka,

Dan cinta monyet.

Pandangan Pertama Untuk Manis Yang Dingin

Lembang kota dingin,

Anginnya menghantam dadaku,

Sesak bukan main,

Namun tatapan mata itu rasanya seperti memeluk..

Aku juga ingat,

Saat air hujan membasahi rambutku,

Dan keringat yang membasahi rambutmu,

Seolah mengatakan,

Untuk saling mengeringkan..

Jarak dekat yang teramat jauh,

Jarak jauh yang terasa dekat,

Di tempat yang sama,

Dengan satu arah pandang..

Gemuruh di tengah air yang jatuh,

Rasanya membisikkan ucapan selamat datang padaku,

Darimu..

Sebelumnya,

Beberapa menit yang lalu,

Aku hanya melewatinya,

Menoleh,

Dan berkata dalam hati

“Haha, senyumnya..”

Ta.. tapi..

Setelah ku duduk di bangku penonton,

Dan kau naik ke atas,

Di mana semua mata pasti tertuju padamu,

Kenapa mata itu hanya tertuju pada satu mata saja?

Kenapa kau tidak adil?

Hatiku terjatuh padamu,

Hanya karna itu.

Memang curang rasanya..

Aku yang sedang memandangmu melalui ponselku,

Berusaha mengabadikan senyuman manis itu,

Dan alat musik yang berbahagia sedang kau mainkan dengan lembutnya..

Seketika ku tersadar,

Ada tatapan mata yang sedang menatapku,

Mata orang yang sedang ku tangkap gerak geriknya lewat kamera ponsel.

Ah, lalu tersenyum nakal,

Sambil menyenggol teman sebelahmu.

Rasanya ingin aku berteriak!

Cukuuuuuupppppp!

Aku ingin tertawa, meremas-remas bantal di kamarku, berguling-guling di taman sekalipun.

Ups! Waktunya sudah selesai..

Waktumu di atas situ.

Baiklah, aku mencoba menikmati beberapa pertunjukan lainnya, layaknya penonton lainnya. Sembari beberapa kali memotret momen-momen yang akan ku kenang sewajarnya.

Hingga di penghujung acara.

Acara yang diiringi anak-anak kecil,

Membawa angklung-angklung yang dibagikan ke penonton untuk membantu memeriahkan acara itu.

Ku terima dan ku genggam erat, membayangkan angklung yang ku pegang, pernah kau jamah juga.

Haha gila!

Hingga… benar-benar penghujung acara yang paling ujung.

Anak-anak kecil tadi menarik beberapa penonton.

Dan ada satu anak kecil yang menarikku!

Oh tidak, aku dibawanya ke depan. Maju menari-nari bersama-sama dengan semua pengisi acara.

Ah! Baru sadar!

Semua pengisi acara!

Yaaaaaah!

Ada kamuuuuu!

Tuhan baik!

Lalu……..

Secangkir Teh Hangat Untuk Sebuah Lamunan

Sore itu, aku duduk di halaman rumah,

Menatap ke luar sambil ditemani teh hangat manis buatan orang tercinta,

Langit jingga menyapa hangat dengan segala kelembutannya,

Diiringi anak-anak kecil yang berlari kesana kemari, sambil bercerita tentang kisah klasiknya…

Aku termenung, terbayang, teringat,

Akan kenangan belasan tahun silam,

Ketika aku pernah menjadi seperti mereka.

Aku dengan segala kenanganku..

Namun tiba-tiba aku berhenti mengingatnya,

Aku teringat akan secangkir teh hangat manis yang harus segera ku seduh sebelum ia dingin.

Namun,

Satu seduhan membawaku terhanyut oleh manisnya,

Aku kembali dalam lamunan,

Membayangkan diriku,

Untuk 1, 2, 3 tahun kedepan, dan tahun-tahun selanjutnya,

Akan lebih sebahagia mana lagi aku nantinya,

Karena aku merasa, kebahagiaanku selalu bertambah seiring dengan bertambahnya waktu.

Aku membayangkan diriku,

Hidup bahagia dengan dua cinta pertamaku, mama dan papa.

Melakukan suatu hal yang kusukai,

Bekerja dengan hati dan kemampuanku,

Dan kelak merasakan hangatnya pelukan seorang kekasih yang lembut dan selalu memberikanku tangis kebahagiaan, tanpa melukaiku walau seujung jarum.

Dan, bermain bersama hewan-hewan manis yang menggemaskan, yang berlari kecil ke arahku ketika aku bangun atau datang dari pergiku.

Oh, rasanya bahagia sekali.

Sesaat lamunanku buyar,

Namun aku yakin,

Semua itu akan terjadi,

Bukan ambisi,

Tapi karena ku lakukan semua dengan hati.

Kita Sudah Tidak Lagi…

Kita sudah tidak lagi,

Sudah tidak seperti dulu.

Aku ingin menyudahi rasa ini,

Harapan ini.

Aku selalu memaafkan kepergianmu,

Tapi kini,

Aku tidak akan lagi menerimamu.

Semua kenangan ingin ku hapus.

Termasuk kenangan ketika aku bertemu denganmu,

Mengenalmu,

Sekitar 6 tahun yang lalu,

Ketika pertama kali kita berjabat tangan,

Hingga akhirnya kita saling menggenggam.

Aku akan mulai belajar,

Belajar untuk membencimu.

Membencimu,

Yang selalu saja membuatku berharap.

Ku yakini sekarang,

Kepada hatiku,

Bahwa hatimu tak untukku.

Karena baru saja aku melihatmu,

Bukan bersama yang lain,

Kau memang masih sendiri,

Tapi kau sama sekali tak menatapku,

Bahkan untuk menyapa.

Kita seolah-olah sudah tak saling kenal.

Kau berubah,

Sejak 2 minggu yang lalu,

Sepulang kau mengantarku,

Apakah aku melakukan kesalahan?

Jika aku melakukan kesalahan, kenapa kau tidak menyalahkanku sedikitpun?

Kau diam seribu bahasa.

Pesan yang ku terima seolah-olah tak ada balas.

Untuk kesekian kalinya,

Kau pergi lagi,

Tanpa alasan yang ku tau.

Untuk kesekian kalinya,

Kita menjadi tidak saling mengenal,

Kita tidak lagi sama.

Kau dengan dirimu,

Dan aku dengan diriku.

Jika kau membaca ini (mungkin tidak),

Ku harap kamu mengerti,

Hati yang tak lagi sama ini,

Sudah lelah untuk terluka.

Create your website at WordPress.com
Get started